Showing posts with label Kisah Islami. Show all posts
Showing posts with label Kisah Islami. Show all posts

Tuesday, 14 May 2013

Kisah semut dan Sulaiman



Sulaiman bin Daud adalah satu-satunya Nabi yang memperoleh keistimewaan dari Allah SWT. sehingga bisa memahami bahasa binatang. Dia bisa bicara dengan burung Hud-hud dan juga bisa memahami bahasa semut. Dalam Al-Quran surah An Naml[27] ayat18-26adalah contoh dari sebagian ayat yang menceritakan keistimewaan Nabi yang sangat kaya raya ini.

Dalam AlQuran terdapat kisah-kisah yang berhubungan dengan peran binatang didalamnya sebagai cerminan kehidupan manusia. Bagi sebagian umat islam, kisah Nabi Sulaiman dan semut ini tidak asing lagi bagi mereka, dimana kita bisa mengambil hikmah yang terkandung dalam cerita ini untuk lebih meningkatkan keimanan kita kepada Allah Yang Maha Esa
Firman Allah, “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud dan dia berkata,  hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia yang nyata.“
Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan) sehingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut,  hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari. 
Maka Nabi Sulaiman tersenyum dengan tertawa kerana mendengar perkataan semut itu. Katanya,  Ya Rabbi, limpahkan kepadaku karunia  untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku; karuniakan padaku hingga boleh mengerjakan amal soleh yang Engkau ridhai; dan masukkan aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang soleh.  (An-Naml[27]: 16-19)  


Menurut sejumlah riwayat, pernah suatu hari Nabi Sulaiman as. bertanya kepada seekor semut,  Wahai semut! Berapa banyak engkau perolehi rezeki dari Allah dalam waktu satu tahun?   Sebesar biji gandum,  jawabnya.     
Kemudian, Nabi Sulaiman memberi semut sebiji gandum lalu memeliharanya dalam sebuah botol. Setelah genap satu tahun, Sulaiman membuka botol untuk melihat nasib si semut. Namun, didapatinya si semut hanya memakan sebagian biji gandum itu.  Mengapa engkau hanya memakan sebagian dan tidak menghabiskannya?  tanya Nabi Sulaiman.  Dahulu aku bertawakal dan pasrah diri kepada Allah,  jawab si semut.  Dengan tawakal kepada-Nya aku yakin bahwa Dia tidak akan melupakanku. Ketika aku berpasrah kepadamu, aku tidak yakin apakah engkau akan ingat kepadaku pada tahun berikutnya sehingga dapat memperoleh sebiji gandum lagi atau engkau akan lupa kepadaku. Karena itu, aku harus tinggalkan sebagian sebagai bekal tahun berikutnya.      

Nabi Sulaiman, walaupun ia sangat kaya raya, namun kekayaannya adalah relatif dan terbatas. Yang Maha Kaya secara mutlak hanyalah Allah SWT semata-mata. Nabi Sulaiman, meskipun sangat baik dan kasih, namun yang Maha Baik dan Maha Kasih dari seluruh pengasih hanyalah Allah SWT semata. Dalam diri Nabi Sulaiman tersimpan sifat terbatas yang tidak dapat dipisahkan; sementara dalam Zat Allah sifat mutlak dan absolut.    
  
Bagaimanapun kayanya Nabi Sulaiman, dia tetap manusia biasa yang tidak boleh sepenuhnya dijadikan tempat bergantung. Bagaimana kasihnya Nabi Sulaiman, dia adalah manusia biasa yang menyimpan kelemahannya tersendiri. Hal itu diketahui oleh semut Nabi Sulaiman. Karena itu, dia masih tidak percaya kepada janji Nabi Sulaiman. Bukan karena khawatir Nabi Sulaiman akan ingkar janji, namun khawatir Nabi Sulaiman tidak mampu memenuhinya lantaran sifat manusiawinya. Tawakal atau berpasrah diri hanyalah kepada Allah SWT semata, bukan kepada manusia.

Kisah dua putra Adam a.s


Hampir seluruh umat islam meyakini bahwa manusia pertama yang diciptakan Allah SWT adalah Adam. Disebut begitu, karena ada sebagian lainnya yang meyakini bahwa Adam bukan manusia pertama. Mereka berdebat soal pertanyaan Malaikat kepada Allah saat akan diciptakan seorang khalifah di muka bumi – lihat QS Al-Baqarah[2]: 30.
Diantara mereka itu adalah Dr. Abdul Shabur Syahin dalam bukunya Ar-Rawafid as-Saqafiyah (Adam Bukan Manusia Pertama, Mitos atau Realitas?). namun, Syekh Abdul Mun’im Ibrahim telah membantah secara tegas karya Abdul Shabur Syahin itu dalam bukunya Ma Qabla Khalqi Adam (Adakah Makhluk Sebelum Adam, Menyingkap Misteri Awal Kehidupan), dan Wafqat Ma’a Abi Adam.
            Mayoritas ulama sepakat bahwa Adam diturunkan di India, dan Hawa di Jeddah, sedangkan ada yang menjelaskan Adam dan Hawa di turunkan di Shafa dan Marwah. Keterangan At-Thabaridalam Tarikh Thabari. Pendapat At-Thabari yang menjelaskan bahwa Adam diturunkan di India di puncak gunung tertinggi di dunia yang lebih banyak disepakati para ulama. Hal ini juga diterangkanSami bin Abdullah bin Ahmad Al-Maghluts dalam bukunya Athlas Tarikh al-Anbiya’ Wa Ar-Rusul(Atlas Sejarah Nabi dan Rasul).
            Setelah Adam dan Istrinya diturunkan ke bumi, maka berkembanglah anak keturunannya. Hal ini ditegaskan Allah dalam AlQuran surah Al-A’raf[7]: 24-25. Allah berfiman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan. Allah berfiman: “di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.” Penjelasan serupa juga terdapat dalam surahAl-Baqarah[2]: 36.
            Para ulama sepakat, sejak diturunkan ke bumi, istri Adam, yakni Hawa melahirkan anak-anak Adam sebanyak 20 kali. dan setiap kelahiran selalu kembar putra dan putrid. Dengan demikian jumlahnya mencapai 40 orang. Dan diantara sekian banyak anak-anak Adam, terdapat kisah yang menjadi awal mula pembunuhan di muka bumi. Pembunuhan itu dilakukan oleh Qabil terhadap adiknya yang benama Habil.
“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!.” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.”
“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.”
“Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zhalim.”
Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi.”(QS Al-Ma’idah[5]: 27-30).
            Menurut Sami bin Abdullah Al-Maghluts, mengutip keterangan Imam At-Thabari dalamTarikh al-Umam wa al-Mulk, menjelaskan; Abu Malik meriwayatkan dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas, dari Murrah al-Hamdani, dari Ibnu Mas’ud, dari para sahabat Rasulullah SAW berkata:
“Semua anak Adam dilahirkan secara kembar dampit;  laki-laki dan perempuan. Beliau kemudian menikahkan anak laki-laki pertama secara menyilang dengan anak perempuan kedua. Beliau memiliki dua anak laki-laki bernama Qabil dan Habil. Qabil merupakan anak laki-laki pertama yang lahir bersama Zar’a (ada yang menyebutnya kembaran Qabil bernama Iklima), dan Habil anak kedua yang lahir bersama dengan Dhar (ada yang menyebutnya Labuda). Saudara kembar Qabil memiliki paras yang lebih cantik dibandingkan dengan saudara kembar Habil.”
Nabi Adam kemudian menikahkan Qabil dengan kembaran Habil, begitu juga sebaliknya. Namun Qabil menolak karena dia merasa lebih tua daripada Habil dan kembarannya lahir bersamaan dengannya. “Dia saudara perempuanku yang lahir bersamaku. Dia lebih cantik dari saudara perempuanmu. Aku lebih berhak menikahinya,” kata Qabil.
Keduanya lalu diminta untuk membuat membuat kurban sebagai persembahan kepada Yang Maha Pencipta. Siapa yang kurbannya diterima maka dialah yang menikah dengan Zar’a/Iklima. Qabil membuat persembahan dari hasil kebunnya yang buruk, sedangkan Habil mengambil domba yang gemuk sebagai kurban. Akhirnya Allah menerima kurban Habil.
Hal ini membuat kecewa Qabil, maka dia pun mencari jalan untuk membunuh Habil. Saat itu, Adam sedang pergi ke Makkah. Sebelum pergi, Adam meminta kepada langit untuk menjaga keluarganya. “Jagalah putraku dengan baik.” Namun langit menolaknya. Kemudian Adam meminta kepada bumi namun bumi pun menolaknya. Adam meminta kepada gunung sama, seperti langit dan bumi gunung pun menolak Adam. Akhirnya Adam meminta kepada Qabil, dan Qabil berjanji untuk menjaganya. Dan terjadilah peristiwa pembunuhan Habil itu.
Qabil lalu meninggalkan mayat Habil di tempat terbuka. Sebab, dia tidak tahu harus diapakan mayat adiknya itu. Allah SWT lalu mengirimkan dua ekor burung gagak bersaudara, keduanya saling bertengkar hingga salah satunya tewas, burung gagak itu lalu menggali tanah dengan paruhnya dan menguburkan gagak yang mati tersebut. Ketika Qabil melihat itu dia berkata:“Celaka,mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku bisa menguburkan mayat saudaraku ini.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 31).
Nabi Adam lalu pulang dan menemukan salah satu putranya telah tiada karena dibunuh oleh anaknya sendiri.
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh.” (QS Al-Adzab[33]: 72).
Dialah Qabil, manusia yang tidak amanah dalam menunaikan amanah Nabi Adam AS untuk menjaga keluarganya. Demikianlah keterangan Imam At-Thabari dalam Tarikh al-umam wa al-Mulk, jilid I, halaman 13.

Makkah


            Dijelaskan oleh Sami bin Abdullah Al-Maghluts, peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh Qabil pada saudaranya yang bernama Habil terjadi di daerah Makkah. Sebab, Makkah merupakan tempat tinggal Adam dan Hawa setelah mereka turun ke bumi.
            Hal senada juga diungkapkan Syauqi Abu Khalil dalam bukunyaAthlas Al-Qur’an. Syauqi menjelaskan, pembunuhan Habil terjadi di Makkah, inilah pendapat paling kuat. Sedangkan Qabil setelah membunuh Habil pergi melarikan diri ke daerah Yaman. Demikian diterangkan At-Thabari dalam Qishash al-Anbiya. “Qabil melarikan diri dari ayahnya (Adam) dan menuju ke daerah Yaman.”
            Nabi Adam menurut sebagian riwayat hidup hingga berusia 1000 tahun. Riwayat lain menyebutkan usianya antara 950 – 1000 tahun. Dan jarak antara Adam dengan Nuh juga 1000 tahun atau 10 abad. Demikian keterangan Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-Bidayah wa an-Nihayah. Ibnu Katsir menjelaskan, ada seorang bertanya; “Ya Rasulullah, apakah Adam seorang nabi?” Rasul SAW menjawab, “ya, nabi yang diberikan wahyu.” Orang itu kembali bertanya; “berapa lama rentang waktu antara Adam dan Nuh?” Nabi SAW menjawab; “sepuluh abad.” (HR. Muslim).
            Dalam bukunya Atlas Sejarah Nabi dan Rasul, Sami al-Maghluts menjelaskan, Adam hidup siperkiran sekitar tahun 5872-4942 sebelum masehi (SM). Sedangkan Nabi Nuh diperkirakan hidup sekitar tahun 3993-3043 SM (usia 950 tahun). Lihat juga penjelasan Ahmad al-Usairy dalam Tarikh al-Islamy.
            Menurut beberapa riwayat, Nabi Adam AS dimakamkan di gunung Qasiyun di daerah Damaskus. Syauqi Abu Khalil menambahkan, di gunung Qasiyun yang menhukang tinggi di kota Damaskus dari arah utara terdapat satu gua yang bernama Magharatud Dam yang berarti gua darah. Gua ini sangat terkenal oleh sebagian masyarakat umum, tempat ini diyakini sebagai tempat Qabil membunuh saudaranya Habil. Lokasinya terletak di sebelah kanan jalan dari arah Damaskus menuju Zabdani dan Balaudan. Sementara itu di  Sungai Bardi terdapat satu kuburan yang panjangnya kira-kira 15 meter, sebagian masyarakat meyakini tempat itu sebagai kuburan Habil.     Wallahu A’lam

Bertemunya Adam a.s dengan Hawa




Mayoritas ulama sepakat, bahwa keduanya diturunkan secara terpisah (Adam di India sedangkan Hawa di Jeddah), lalu bertemu di Jabal Rahmah, di Arafah.

Setelah beberapa lama berpisah, Adam merasa rindu dengan istrinya. Ia pun mencarinya, hingga Allah memerintahkan Adam melaksanakan ibadah haji ke Makkah. Disebutkan dalam kitab Ara’is al-Majlis karya Al-Tsa’aibi, Allah mewahyukan kepada Adam: “Aku memiliki tanah haram (terhormat) dalam posisi sejajar dengan singgasana-Ku (Arasy). Karena itu, datanglah kesana dan berkelilinglah (thawaf) sebagaimana dikelilinginya singgasana-Ku. Shalatlah di sana sebagaimana dilaksanakan shalat di sisi singgasana-Ku. Disanalah Aku memperkenankan doamu.”
            Maka berangkatlah Adam kearah yang dimaksud dengan bimbingan dari Malaikat Jibril. Imam Thabari meriwayatkan, dari India Adam berangkat menuju Makkah, lalu ia mencari Hawa. Keduanya mendekat di Muzdalifah (mendekat), lalu mengetahui dan saling mengenali di Arafah,untuk berkumpul di Jama’i.
            Jabal Rahmah yang berarti bukit atau gunung kasih sayang, diyakini umat islam sebagai tempat bertemunya antara Nabi Adam dan Hawa, setelah terpisah selama puluhan tahun sejak diturunkan dari surga. Seperti diketahui sebelumnya keduanya adalah penghuni surga.
            Al-Imam Al-Auza’ie meriwayatkan dari Hasan bin Athiyyah bahwa Adam dan Hawa menangis ketika turun di bumi selama 60 tahun karena menyesali berbagai kenikmatan di surga yang tidak didapati lagi oleh keduanya di bumi ini. Keduanya juga menangis karena menyesali dosa yang dilakukan oleh keduanya. Demikian Ibnu Katsir meriwayatkannya dalam Al-Bidayah Wa Al-Nihayah, jilid 1 hlm 74.
            Mayoritas ulama berpendapat, Adam dan Hawa diturunkan secara terpisah (Adam di India, Hawa di Jeddah). Keduanya kemudian bertemu di Jabal Rahmah, di Arafah. Keyakinan bahwa bertemunya Adam dan Hawa di Jabal Rahmah itu kemudian dikukuhkan dengan dibangunnya sebuah tugu oleh pemerintah Arab Saudi di tempat tersebut.
            Sementara itu, mengenai makam Nabi Adam, masih banyak diperdebatkan. Ada yang menyebutkan makamnya terletak di gunung (Jabal) Abu Qubais. Ada juga yang mengatakan, di gunung Baudza (India), tempat pertama kali turun ke bumi. Dan, ada juga yang berpendapat, setelah terjadi angin topan, Nuh mengunjungi makamnya di Baitul Maqdis.

Salah Kaprah di Jabal Rahmah
            Tugu peringatan yang dibangun oleh pemerintah Arab Saudi itu ternyata banyak ‘disalahpahami’ oleh umat islam. Tugu yang dibuat sebagai monumen peringatan atas sebuah sejarah ternyata dijadikan ‘berhala modern’ untuk meminta. Ada yang meminta jodoh, rezeki, panjang umur, dan lain sebagainya. Umumnya, hal itu banyak dilakukan oleh orang-orang yang (katanya) berpredikat mampu, yakni jemaah haji dan umrah. Didepan tugu itu mereka melakukan sejumlah ritual seperti menempelkan foto, tanda-tangan, tulisan coretan, dsb.
            Para jemaah haji itu seakan menganggap perbuatan tersebut bagian dari ritual yang dianjurkan ketika berada di Jabal Rahmah, sehingga mereka melupakan asal muasalnya berdirinya tugu tersebut. Padahal pemerintah Arab Saudi telah memperingatkan para jemaah haji untuk tidak melakukan praktik ritual ibadah apapun di tempat tersebut. Hal ini terlihat jelas dari tulisan yang tertera di tempat tersebut. Diantaranya, mendirikan shalat di tempat tersebut.
            Mungkin, dari sinilah pentingnya meningkatkan kualitas pemahaman bagi para jemaah haji tentang makna ibadah haji dan umrah.



Arafah Tempat Saling Mengenal
            Arafah berarti kenal atau tahu. Di tempat inilah khususnya jemaah haji dari seluruh dunia setiap tahunnya saling bertemu untuk melaksanakan salah satu rukun haji yaitu wukuf di padang Arafah. Arafah memiliki nilai sejarah yang sangat penting bagi umat islam, sebab ditempat inilah Rasulullah SAW menerima wahyu dari Allah SWT tentang kesempurnaan agama islam (QS Al-Maidah[5]: 3). Menurut sejumlah pendapat itulah wahyu terakhir.
            Ada beberapa riwayat yang menyebutkan bahwa para malaikat mengingatkan Adam dan Hawa, setelah keduanya diturunkan ke bumi. Hal ini dimaksudkan agar mereka mengakui (mengetahui; ‘arafa) atas dosa-dosanya dan memohon ampun kepada Allah SWT. kemudian Adam dan Hawa telah mengetahui (arafa) akan kesalahan dan dosa-dosanya. Mereka juga diberitahu(yu’rafu) cara bertobat.
            Ada pula kisah lain yang menyebutkan, saat Jibril memberi tahu Ibrahim cara menunaikan ibadah haji di tempat ini. Jibril bertanya: “Arafta (tahukah kamu?), ya Ibrahim,” Ibrahim menjawab: “Araftu (aku mengetahui).” Berdasarkan keterangan ini pula seluruh jemaah haji melaksanakan wukuf (berdiam diri) sebagai salah satu rukun dalam haji. Rasulullah SAW bersabda: “Al-Hajju ‘Arafah” (haji itu adalah arafah). Tidak sah haji seseorang, bila tidak melaksanakan wukuf di padang Arafah, termasuk orang yang sakit sekali pun saat menunaikan ibadah haji.

 Jemaah haji saat berada di Jabal Rahmah, tempat pertemuan Nabi Adan dan istrinya, Siti Hawa.

            Di tempat ini dan saat pelaksanaan haji (wukuf), semua manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah. Tidak ada jabatan, pangkat, kedudukan, kaya, miskin, golongan atas maupun bawah. Semuanya sama di hadapan Allah SWT, dan hanya ketakwaan yang membedakannya. Pakaian mereka pun sama dan seragam, tidak ada bedanya antara kaya dan miskin, yang pangkatnya tinggi dan rendah. Tidak ada rasa sombong dan angkuh, semua merendah diri mengharap ampunan Ilahi.
            Keutamaan Arafah sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, yang artinya: “Doa yang paling afdhal (utama) adalah doa di hari arafah.”. dalam riwayat lain, Nabi bersabda: “Tidak ada hari yang paling banyaa\k Allah menentukan pembebasan hamba-Nya dari neraka, kecuali hari arafah.”
            Setelah wukuf, kemudian melanjutkan perjalanan ke Mina sekitar 5 kilometer untuk melempar jumrah. Kemudian Thawaf ifadhah di Makkah, Sai’ (berlari kecil) dan tahallul (memotong rambut). Selesailah prosesi ibadah haji, mereka pulang dengan sebutan haji dan hajjahyang diterima (mabrur).
            Konon, di tempat ini pula nantinya saat terjadi hari kiamat seluruh umat manusia akan dikumpulkan, yakni di padang Mahsyar. Mereka akan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Allah SWT atas segala perbuatannya selama di dunia.
Wallahu a’lam.

Friday, 10 May 2013

Kisah Harut dan Marut


Al-Israa-iiliyaat dalam kisah "Harut dan Marut(Dinukil dari kitabal-israa-iiliyaat fit-Tafsiir, Dr. Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah) Diriwayatkan oleh as-Sayuthi dalam kitab ad-Durrul Mantsuur, ditafsirkan dalam firman Allah SWT, "… Dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut…." (al-Baqarah[2]: 102). Terdapat riwayat yang sangat banyak dan kisah-kisah yang menakjubkan ini yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, Ibnu Mas'ud, dan Ali. Juga oleh Ibnu Abbas, Mujahid, Ka'ah, Rabi', dan as-Sady yang meriwayatkan dari Ibnu Jarirath-Thabari dalam tafsirnya, Ibnu Mardaweh, dan al-Hakim. Ibnu al-Mundzirdan Ibnu Abi ad-Dunya serta al-Baihaqi dan al-Khatib dalam tafsir-tafsir, kitab-kitab, dan khulashah-nya, "Ketika masyarakat dari anak-anak Adam a.s. terjerumus dalam perbuatan-perbuatan maksiat dan kafir kepada Allah SWT. Para malaikat di atas langit berkata, "Ya Rabb, alam raya ini Engkau ciptakan sebagai tempat untuk beribadah dan taat kepada-Mu. Mereka telah berbuat maksiat, kafir, membunuh orang yang diharamkan, memakan harta haram, mencuri, berzina, dan meminum khamar (minuman keras). Mereka (para malaikat) selalu mengajukan tuntutan atas apa yang diperbuat manusia tanpa bisa memakluminya. Lalu dikatakan kepada mereka, 'Manusia-manusia itu dalam keadaan tidak sadar.' Namun mereka tetap saja tidak mau memakluminya. Didalam sebagian riwayat dikatakan bahwa Allah SWT berfirman kepada mereka, 'Jika kalian menempati posisi mereka niscaya kalian juga akan melakukan seperti apa yang mereka lakukan.' Mereka berkata, 'Mahasuci Engkau, kami tidak akan pernah melakukan hal itu'" Didalam riwayat lain merka mengatakan, 'Tidak akan pernah.' Lalu dikatakan kepada mereka, 'Pilihlah dua orang malaikat diantara kalian, Aku akan memerintahkannya untuk melakukan apa-apa yang-Ku perintahkan dan melarangnya untuk berbuat maksiat kepada-Ku.
Lalu mereka memilih Harut dan Marut. Keduanya segera turun ke bumi setelah dilengkapi dengan perangkat syahwat, sebagaimana yang terdapat pada manusia. Keduanya diperintahkan untuk senantiasa menyembah Allah SWT dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dilarang membunuh manusia yang diharamkan, memakan harta haram, mencuri, berzina, dan meminum khamar. Keduanya tinggal di bumi selama beberapa tahun dan tinggal diantara manusia dengan benar. Pada suatu zaman terdapat seorang wanita yang kecantikannya dikalangan manusia laksana kecantikan planet Venus diantara gugusan galaksi diangkasa. Kedua malaikat itu sama-sama ingin memiliki wanita tersebut. Namun wanita itu menolak kecuali jika keduanya mengikuti agamanya. Lalu keduanya menanyakan agama yang dianut oleh wanita tersebut. Wanita cantik itu segera mengeluarkan dan memperlihatkan sebuah berhala. 'Kami tidak punya keinginan untuk menyembah ini,' tolak kedua malaikat itu. Setelah itu, keduanya berlalu dan tetap menyembah kepada Allah SWT.
Kemudian kedua malaikat itu mendatangi wanita tersebut dan berusaha menaklukannya dengan kata-kata, dengan harapan bisa memilikinya. Namun, wanita itu tetap menolak kecuali jika keduanya menyembah berhala yang disembahnya. Kedua malaikat itu tetap menolak. Ketika wanita itu melihat dua laki-laki itu tetap tidak mau menyerah dan menyembah berhala, ia berkata, 'Jika kalian tetap menolak, pilihlah satu diantara tiga pilihan. Kalian menyembah berhala ini, membunuh manusia atau minum khamar.' Keduanya segera berkata, 'Yang paling mudah dari ketiga pilihan itu adalah meminum khamar.'
Wanita itu segera meminumkan khamar kepada keduanya. Setelah minum khamar mereka menyetubuhi wanitu itu. Pada saat mereka melakukan perbuatan itu, seorang lelaki lewat dihdapannya. Karena keduanya merasa khawatir bahwa orang itu akan menyebarluaskan apa yang dilakukannya, mereka segera membunuhnya.
Begitu sadar dari mabuknya, keduanya segera menyadari kesalahan yang baru saja dilakukannya dan ingin segera kembali ke atas langit. Namun, mereka tidak bisa melakukannya. Dengan demikian penutup tabir rahasia antara keduanya dengan penghuni langit sudah terungkap. Pada saat itu, para malaikat menyaksikan sendiri perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh kedua rekannya dan mengetahui dengan pasti bahwa orang yang kehilangan kesadaran mereka, kadar rasa takutnya akan lebih sedikit. Sejak saat itu, mereka selalu memohonkan ampunan untuk penghuni bumi.
Setelah kesalahan yang menimpa kedua malaikat itu terjadi, lalu dikatakan kepadanya, 'Sekarang pilihlah, azab dunia atau azab akhirat.' Keduanya berkata, 'Azab dunia akan berakhir sedangkan azab akhirat tidak akan pernah berakhir.' Keduanya memilih azab dunia. Kemudian keduanya ditempatkan di negeri Babil dan diazab dengan kedua kaki terikat. Di dalam sebagian riwayat dikatakan, 'Bahwa keduanya mengajari wanita itu kalimat yang dapat membuat keduanya naik kelangit. Lalu wanita itu naik ke atas langit, namun Allah memutuskannya. Planet yang dikenal dengan nama Zahrah (Venus) adalah penjelmaan wanita tersebut!'"
Semua cerita diatas adalah khurafat-khurafat anak cucu Israel dan kebohongan mereka yang tidak masuk akal, tidak masuk dalam nukilan dan tidak masuk dalam syariat. Dan, sebagian perawi kisah khurafat batil ini dalam meriwayatkannya tidak sampai kepada para sahabat dan tabi'in. Akan tetapi, mereka telah membuka pintu-pintu kejahatan dan memasukinya. Mereka telah melekatkan dan mengangkat kebohongan ini kepada Rasulullah SAW. Mahasuci Allah Rabb-ku, ini adalah perbuatan keji yang sangat besar.
Imam Abu al-Farj telah menghukumi kisah itu sebagai hadith palsu danas-Syihab al-Iraqi telah me-nash-kan bahwa orang percaya bahwa Harut dan Marut adalah dua orang malaikat yang diazab, karena kesalahan yang telah dilakukannya, maka ia telah kafir kepada Allah Yang Maha Agung.
Imam al-Qadhi 'Ayadh dalam kitab asy-Syifa berkata, "Bahwa apa yang disebutkan oleh para perawi dan dinukil oleh para ahli tafsir tentang kisah Harut dan Marut tidak memiliki arti apa-apa dan tidak benar berasal dari sabda Rasulullah SAW. serta bukan sesuatu yang diambil dari qiyas."
Kemudian jika ditinjau dari segi akal kisah ini tidak bisa diterima. Karena para malaikat suci dan bersih dari dosa besar semacam ini yang tidak bersumber, kecuali dari akhlak yang buruk. Allah SWT telah memberitahukan tentang mereka tidak pernah mengingkari apa-apa yang diperintahkan-Nya dan senantisa menjalankan apa-apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam sebagian riwayat yang telah dikemukankan yang menjawab firman Allah SWT. Di dalam riwayat lain dikatakan bahwa Allah SWT berfirman kepada mereka, "Jika kalian berdua diuji sebagaimana ujian yang diterapkan kepada anak cucu Adam a.s., kalian juga akan berbuat maksiat kepada-Ku." Kedua malaikat itu menjawab, "Kalaupun Engkau juga menguji kami dengan ujian yang Kau terapkan kepada anak-anak Adam, kami sekali-kali tidak akan berbuat maksiat kepada-Mu."Menanggapi firman Allah SWT adalah suatu kekafiran, karena akan menjauhkan orang yang memiliki pengetahuan tentang Allah dan sifat-sifat-Nya dari-Nya. Bagaimana mungkin seorang yang jahat dapat naik ke langit dan menjadi salah satu gugusan galaksi yang berkilau. Lalu bintang apakah mereka namakan az-Zahrah dan mereka anggap sebagai penjelmaan dari wanita jahat tersebut. Lalu Allah memutuskannya kecuali tetap berada di tempatnya sejak Ia menciptakan lapisan langit dan bumi.
Khurafat yang tidak ditemukan tersebut, sebenarnya cerita itu dinukil dan tidak berdasarkan pada logika yang benar, sangat bertentangan dengan keyakinan yang dianut oleh para ilmuwan modern.