Showing posts with label Realita. Show all posts
Showing posts with label Realita. Show all posts

Tuesday, 9 July 2013

Orang-orang yang di do'akan oleh para malaikat


 BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

ASSALAMU’ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH

Segala puji bagi Allah, Dzat yang Maha Rahman dan Rahim, Sesungguhnya para Malaikat pula mendo'akan manusia, siapa sajakah mereka. Baiklah silakan dibaca terus, mereka adalah :

    Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
    Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.
    Orang – orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjama’ah.
    Orang – orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).
    Para malaikat mengucapkan Amin ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.
    Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
    Orang – orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah.
    Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
    Orang – orang yang berinfak.
    Orang yang sedang makan sahur.
    Orang yang sedang menjenguk orang sakit.
    Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.

    Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.

   
    Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci‘”.
    (Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

    Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.
 
    
  Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia‘”.
    (Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Muslim no. 469)
   
Orang – orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah.
   
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan”.
    (Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin `Azib ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

    Orang – orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).

     Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf”.
    (Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)


    Orang yang mengucapkan Amin ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.
   


Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn‘, maka ucapkanlah oleh kalian aamiin, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu”.
    (Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 782)

    Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.

    Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia‘”.
    (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

    Orang – orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah.

    Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat (yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat’”.
    (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

    Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.

    Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan‘”.
    (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., Shahih Muslim no. 2733)

    Orang – orang yang berinfak.

    Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak‘. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit‘”.
    (Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)
 
  Orang yang sedang makan sahur.


    Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang – orang yang sedang makan sahur”.
    (Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)
  
 Orang yang sedang menjenguk orang sakit.


    Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh”.
    (Imam Ahmad meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib ra., Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)

    Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.





    Rasulullah SAW bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain”.
    (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Semoga bacaan diatas bermanfaat bagi umat muslim. Aamiin...!

Tuesday, 14 May 2013

Isra' bersama rasulullah


   Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya dari Anas Ibnu Malik bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Didatangkan untukku Buraq yang merupakan hewan putih, panjangnya diatas himar dan dibawah bagal, kukunya berada di akhir ujungnya. Beliau bersabda, `Aku segera menunggainya hingga tiba di Baitul Maqdis.' Beliau bersabda, `Lalu ia mengikatnya dengan tali (rantai)  yang biasa dipakai oleh para nabi untuk mengikat.' Beliau melanjutkan, `Kemudian aku memasuki masjid (Baitul Maqdis) dan mendirikan shalat dua rakaat. Setelah itu, aku keluar. Lalu Malaikat Jibril a.s. mendatangiku dan menyodorkan dua buah gelas yang satu berisi khamar dan lainnya berisi susu. Aku memilih gelas yang berisi susu dan Jibril a.s. berkata, `Engkau telah memilih kesucian.'

Kemudian ia naik bersamaku ke langit yang pertama. Jibril meminta dibukakan pintu. Lalu (malaikat penjaga langit pertama) bertanya, `Siapakah kamu.' Jibril a.s. menjawab, `Jibril.' Kemudian ia ditanya lagi, `Siapakah yang besertamu?' Jibril a.s. menjawab, `Muhammad.' Malaikat itu bertanya, `Apakah kamu diutus?' Jibril menjawab, `Ya, aku diutus.' Lalu pintu langit dibukakan untuk kami. Ternyata aku bertemu dengan Nabi Adam a.s. Ia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Setelah itu Jibril a.s. naik bersamaku ke langit yang kedua dan meminta dibukakan pintu. Lalu pintu langit kedua dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan dua putra paman Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria a.s., keduanya menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Lalu Jibril a.s. naik bersamaku ke langit yang ketiga dan meminta dibukakan pintu langit ketiga. Lalu pintu langit ketiga dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Yusuf a.s. yang telah dianugerahi sebagian nikmat ketampanan. Ia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Kemudian Jibril a.s. naik bersamaku ke langit keempat dan meminta dibukakan pintu langit keempat. Lalu pintu langit keempat dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Idris a.s. yang menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Allah SWT berfirman, `Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.'

Setelah itu Jibril a.s. kembali naik bersamaku ke langit yang kelima dan meminta dibukakan pintu langit kelima. Lalu ia membukakan pintu langit yang kelima untuk kami, Di sana aku bertemu dengan Harun a.s. yang menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Malaikat Jibril a.s. kembali naik bersamaku ke langit yang keenam dan meminta dibukakan pintu untuk kami. Lalu ia membukakan pintu keenam untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Musa a.s. yang menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Lalu Jibril a.s. naik lagi bersamaku ke langit yang ketujuh dan meminta dibukakan pintu langit ketujuh. Kemudian malaikat penjaga pintu langit ketujuh membukakan pintu untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Ibrahim a.s. yang menyandarkan punggungnya ke Baitul Ma'mur yang setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat dan tidak kembali kepadanya -sebelum menyelesaikan urusannya.
Setelah itu, ia pergi bersamaku ke Sidratul Muntaha. Ternyata, daun-daunnya sebesar kuping gajah dan buah-buahannya menyerupai buah anggur. Begitu perintah Allah SWT menyelubunginya dan menyelubungi apa-apa yang akan diselubungi, ia segera berubah. Tidak ada seorang makhluk Allah pun yang mampu menyifati keindahan dan keelokannya. Lalu Allah Maha Agung mewahyukan apa-apa yang akan diwahyukan-Nya kepadaku dan mewajibkanku untuk mendirikan shalat lima puluh kali setiap hari sehari semalam. 
Setelah itu, aku turun menemui Musa a.s.. Ia bertanya kepadaku, `Apakah gerangan yang telah diwajibkan Allah SWT atas umatmu.' Aku menjawab,' Mendirikan shalat sebanyak lima puluh kali.' Kemudian ia berkata, `Kembalilah kepada Rabb-mu dan mohonlah kepada-Nya keringanan. Sesungguhnya umatmu tidak memiliki kemampuan untuk melakukan itu. Sesungguhnya aku telah berpengalaman mencobanya kepada Bani Israel.' Beliau melanjutkan sabdanya, `Kemudian aku kembali kepada Rabb-ku dan memohon, `Wahai Rabb, berikanlah keringan untuk umatku.' Dan Ia mengurangi menjadi lima kali. 
Setelah itu, aku kembali menemui Musa a.s. dan kukatakan kepadanya, `Ia telah mengurangi menjadi lima kali.' Namun Musa a.s. kembali berkata, `Sesungguhnya umatmu tidak memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu. Karena itu kembalilah kepada Rabb-mu dan mohonlah keringanan.' Lalu aku bolak-balik bertemu antara Rabb-ku Yang Maha Tinggi dengan Musa a.s.. Lalu Dia berfirman, `Wahai Muhammad, sesungguhnya kelima shalat itu dilaksanakan setiap sehari semalam. Setiap shalat dihitung sepuluh yang berarti berjumlah lima puluh shalat. Barang siapa yang ingin melakukan suatu kebaikan kemudian tidak melaksanakannya, maka Ku-tuliskan untuknya satu kebaikan. Dan jika ia mengerjakannya, maka Ku-tuliskan untuknya sepuluh kebaikan. Barangsiapa ingin melakukan kejelekan kemudian tidak melakukannya, maka Aku tidak menulis apa-apa padanya. Dan jika ia mengerjakannya, maka Aku menuliskannya satu kejelekan.' 
Beliau kembali melanjutkan sabdanya, `Lalu aku turun hingga sampai kepada Musa a.s. dan memberitahukan hal tersebut. Musa a.s. berkata, `Kembalilah kepada Rabb-mu dan memohonlah keringanan.' Saat itu Rasulullah saw. bersabda, `Aku katakan kepadanya, `Aku telah berulang kali kembali kepada Rabb-ku hingga aku merasa malu kepada-Nya.

Tempat Adam a.s di turunkan



Gunung Everest di Himalaya merupakan puncak gunung tertinggi di dunia. Puncaknya mencapai 8.848 meter dari permukaan laut.

Menyebut nama Nabi Adam Alaihissalam (AS), maka akan terlintas dalam benak pikiran manusia, sosok manusia pertama cerdas (berakal) yang diciptakan Allah SWT. kisah penciptaan Adam terdapat dalam surah Al-Baqarah [2] ayat 30.
“Ingatlah ketika Tuhamu berfirman kepada para Malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang-orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 30)
             
Selain ayat di atas, masih banyak lagi ayat-ayat AlQuran yang menceritakan tentang kisah penciptaan Nabi Adam AS. Dalam AlQuran, nama Adam disebut sebanyak 25 kali, dan kisahnya antara lain dipaparkan dalam surah Al-Baqarah [2]: 30-39, Al-A’raf [7]: 11-25, Al-Hijr [15]: 26-38, Al-Isra’ [17]: 61-65, Thaha [20]: 115-127, dan Shad [38]: 71-78.
Secara umum disebutkan, Adam adalah salah satu makhluk Allah, Ia bersama Hawa (istrinya) menjalani kehidupan di surga, kemudian Allah menurunkannya ke bumi untuk menjadi khalifah (pengelola bumi). Bersama istri dan keturunannya, Adam menjadi penghuni dan pengelola bumi.
                Kisah diturunkannya Adam ke bumi diawali saat Adam dan Hawa memakan buah Khuldi di surga. Allah melarang keduanya untuk memakan buah Khuldi.
Keduanya pun terbujuk dengan rayuan iblis, hingga mereka memakan buah khuldi tersebut.
Menurut Ibnul Atsir, Adam AS awalnya menolak mengikuti bujukan iblis, namun desakan Siti Hawa yang begitu kuat, akhirnya membuat Adam ikut memakan buah tersebut. Lihat An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits, karya Ibnul Atsir jilid 3 hlm. 158.
                Keduanya lalu bertobat dan memohon ampun kepada Allah dan Allah menerima tobat mereka dan memilih Adam sebagai Rasul-Nya.
Kendati Allah SWT telah menerima tobat Adam dan Hawa, namun sebagaimana kehendak Allah untuk menjadikannya sebagai khalifah di bumi, maka Adam dan Hawa lalu diturunkan ke bumi.
Di bumi, Adam dan Hawa bertempat tinggal serta mengembangkan keturunannya. Lihat firman Allah SWT dalam surah Al-A’raf [7]: 24-25.
                Selain Adam dan Hawa, Allah juga menurunkan Iblis dan ular ke bumi. Sebelumnya, iblis lebih dahulu diusir dari surga karena tidak mau sujud kepada Adam. Al-Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At-Thabari RA dalam tafsirnya ketika menerangkan ayat ke-36 surah Al-Baqarah [2], membawakan sebuah riwayat dengan sanad bersambung kepada para sahabat Nabi SAW seperti Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, dan lainnya
“Ketika Allah memerintahkan kepada Adam dan Hawa untuk tinggal di surga dan melarang keduanya memakan buah khuldi, iblis memiliki kesempatan untuk menggoda Adam dan Hawa, namun, ketika akan memasuki surga, iblis dihalangi oleh malaikat. Dengan tipu muslihatnya, iblis kemudian mendatangi seekor ular, yang waktu itu ia adalah hewan yang mempunyai empat kaki seperti unta, dan ia adalah hewan yang paling bagus bentuknya. Setelah berbasa-basi, iblis lalu masuk ke mulut ular dan ular itu pun masuk ke surga sehingga iblis lolos dari pengawasan malaikat.” (Tafsir At-Thabari)



Gunung Tertinggi
                Lalu, setelah dikeluarkan dari surga, dimanakah Adam dan Hawa diturunkan? Para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini. Mayoritas ulama sepakat bahwa keduanya diturunkan secara terpisah dan kemudian bertemu di Jabal Rahmah, di Arafah.
Mengenai tempat diturunkannya inilah yang menjadi perselisihan pendapat di kalangan ulama. Al-Imam At-Thabari dalam Tarikh Thabari (jilid 1 hlm 121-126), menyatakan, Mujahid meriwayatkan keterangan dari Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib yang mengatakan: “Adam diturunkan dari surga ke bumi di negeri India.”Keterangan ini juga diriwayatkan oleh Thabrani dan Abu Nu’aim di dalam kitab al-Hilyah, dan Ibnu Asakir dari Abu Hurairah RA.
Thabrani meriwayatkan dari Abdullah bin Umar :
“Ketika Allah menurunkan Adam, Dia menurunkannya di tanah India. Kemudian dia mendatangi Makkah, untuk berhaji kemudian pergi menuju Syam (Syria) dan meninggal di sana.”
                (HR. Thabrani)
Abu Shaleh meriwayatkan juga dari Ibnu Abbas yang menerangkan bahwa Hawa diturunkan di Jeddah (Arab: nenek perempuan) yang merupakan bagian dari Makkah. Kemudian dalam riwayat lain At-Thabari meriwayatkan lagi bahwa Iblis diturunkan di negeri Maisan, yaitu negeri yang terletak antara Basrah dengan Wasith, sedangkan ular diturunkan di negeri Asbahan (Iran).
                Riwayat lain menyebutkan, Adam diturunkan di bukit Shafa dan Siti Hawa di bukit Marwah. Sedangkan riwayat lain menyebutkan Adam AS diturunkan diantara Makkah dan Thaif. Ada pula yang berpendapat Adam diturunkan di daerah India sementara Hawa di Irak.
                AlQuran sendiri tidak menerangkan secara jelas di mana Adam dan Hawa diturunkan. AlQuran hanya menjelaskan tentang proses diturunkannya Adam dan Hawa ke bumi. Lihat Al-Baqarah [2]: 30-39 dan Al-A’raf [7]: 11-25.
Sementara itu, menurut legenda agama Kristen, setelah diusir dari Taman eden (Surga), Adam pertama kali menjejakan kainya di muka bumi di sebuah gunung yang dikenal sebagai Puncak Adam atau Al-Rohun yang terdapat di Sri Langka.
Menurut At-Thabari, tempat Adam diturunkan adalah di puncak gunung tertinggi di dunia. Keterangan At-Thabari ini kemudian diikuti oleh para ahli geografi modern, dan merupakan pendapat yang paling kuat dasarnya.
Pendapat ini juga diikuti oleh Syauqi Abu Khalil dalam bukunya Atlas Al-Qur’an, dan Sami bin Abdullah Al-Maghluts dalam Atlas Sejarah Nabi dan Rasul. Para ahli geologi telah melakukan berbagai penelitian mengenai gunung tertinggi di dunia, mulai dari dartan Asia, Eropa, Afrika, Amerika, hingga Australia. Dan dari penelitian itu disepakati bahwa gunung tertinggi di dunia adalah Gunung Everest (Mount Everest) yang ada di daerah Himalaya, mencapau 8.848 meter dari permukaan laut (dpl). Dari sinilah para ahli meyakini bahwa Adam memang diturunkan di daerah ini, yaitu di puncak tertinggi di dunia (Mount Everest). Wa Allahu A’lam

Diturunkan untuk Menjadi Khalifah
                Dalam berbagai riwayat, termasuk dalam kepercayaan orang-orang non-muslim sebagaimana keterangan kitab-kitab mereka, Adam dan Hawa diturunkan ke bumi akibat perbuatan mereka yang melanggar larangan Allah SWT. larangan tersebut adalah memakan buah khuldi, karena tergoda oleh rayuan dan bujukan Iblis. Sebagian umat islam juga mempercayai hal ini, yaitu mereka (Adam dan Hawa) diturunkan ke bumi ini akibat melanggar larangan Allah yaitu memakan buah khuldi.
                Tentu saja, anggapan ini keliru dan sangat berbahaya bagi akidah umat islam. Sebab, dengan meyakini diturunkannya Adam dan Hawa karena perbuatan mereka memakan buah khuldi, berarti umat manusia saat ini menanggung dosa (warisan) sebagaimana kepercayaan dalam agama lain.
Hal inilah yang ditolak oleh islam. Dalam ajaran islam, tidak ada istilah dosa warisan. Setiap orang yang berbuat keburukan, maka dialah yang menanggung dosanya dan tidak ada dosa bagi orang lain yang tidak mengikutinya.
                Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menerangkan, andai dosa Adam itu ditanggung pula oleh umat manusia, hal itu bertentangan dengan keterangan AlQuran yang menyatakan bahwa manusia tidak akan memikul dosa orang lain.
                Ibnu Katsir menjelaskan, diturunkannya Adam AS ke bumi ini memang direncanakan dan sesuai dengan skenario Allah SWT untuk menjadikannya sebagai khalifah yakni mengelola bumi dan seisinya (QS  [2]: 30). Karena itulah, Allah mengejarkan (ilmu) tentang nama-nama setiap benda kepada Adam, dan tidak diajarkan kepada malaikat, termasuk iblis (QS [2]: 31-37). Dengan ilmu itu agar nantinya anak-cucu Adam di bumi bisa mengetahui dan mengelolanya dengan baik untuk kehidupan mereka di masa-masa berikutnya.
                Dengan penguasaan ilmu itu, maka Allah memerintahkan kepada malaikat dan iblis untuk bersujud kepada Adam. Malaikat melaksanakan perintah Allah dan bersujud, sedangkan iblis menolaknya. Dan atas penolakan iblis itu, maka Allah pun mengutuk dan mengusirnya dari surga.
Keterangan inilah yang akhirnya membuat seorang peneliti bidang matematika dari Universitas Kansas, Amerika Serikat, Prof. Dr. Jeffrey Lang, untuk memeluk islam. “Adam diturunkan ke bumi bukan karena dosa yang diperbuatnya, melainkan karena Allah SWT menginginkan seorang khalifah di bumi untuk mengatur dan mensejahterakan alam.” Ujarnya. Lang mengatakan, ia benar-benar berupaya keras memahami ayat 30-39 surah Al-Baqarah [2] yang menjelaskan tentang penciptaan Adam hingga ia diturunkan ke bumi. Ia membandingkannya dengan ajaran agama yang dianutnya terdahulu didalam berbagai literatur dan kitab suci. Namun, ia kecewa dengan hasilnya. Maka ia berusaha untuk terus mencari hingga akhirnya menemukan jawabannya di dalam AlQuran.
Penjelasan terperinci Jeffrey Lang mengenai hal ini dan pergulatannya dalam memahami islam, ia kemukakan dalam bukunya Losing My Religion: A Call for Help.

Adam bukan Makhluk Pertama
                Nabi Adam AS adalah manusia cerdas pertama yang diciptakan Allah SWT. ia diberikan akal pikiran dan dapat mengetahui segala sesuatu, termasuk yang menciptakannya, Allah SWT. dan Adam diciptakan oleh Allah SWT untuk menjadi khalifah di muka bumi, yakni mengelola, merawat dan melestarikannya untuk anak cucunya kelak. (QS Al-Baqarah [2]: 30-39).
                Banyak pendapat yang mengatakan, Adam bukanlah manusia pertama. Pendapat ini terekam dalam berbagai buku. Bahkan beberapa diantaranya ditulis oleh penulis muslim. Menurut mereka maknanya bukan menciptakan (khalaqa), melainkan menjadikan (ja’ala).
Sebagaimana diketahui, Adam AS memang bukan makhluk pertama yang diciptakan Allah. Sebab, masih ada makhluk lain yang lebih dahulu diciptakan-Nya, seperti Malaikat dan Iblis.
Pendapat yang menyatakan bahwa Adam bukan manusia pertama, salah satunya dikemukakan ole Dr. Abdul Shabur Syahin. Dalam bukunya Ar-Rawafid al-Saqafiyah (Adam Bukan Manusia Pertama? Mitos atau Realita), Syahin mengatakan, Adam adalah Abul Insan, bukan Abul Basyar. Keduanya bermakna sama, yakni bapak (nenek moyang) manusia.
Abdul Shabur Syahin membedakan makna antara al-Insan dan al-Basyar. Karena perbedaan itu, Syahin menegaskan, Adam bukanlah manusia pertama. Menurutnya, Adam bukan diciptakan, melainkan dilahirkan. Makna dari dilahirkan berarti ada orangtuanya. Ia membedakan antara kata ja’ala (menjadikan) dan khalaqa(menciptakan). Menurutnya, dalam surah Al-Baqarah [2]: 30, An-Naml [27]:62, Fathir [35]: 39, kata ‘menjadikan khalifah’ bukanlah menciptakan manusia baru, tetapi meneruskan cara kerja manusia yang sudah ada sebelumnya. Karenanya, kata dia, Adam bukanlah manusia pertama.
                Pendapat ini dibantah oleh Syekh Abdul Mun’im Ibrahim. Menurutnya, pendapat yang diutarakan oleh Abdul Shabur Syahin tentang Adam dilahirkan, sangat bertentangan dengan sejumlah ayat AlQuran maupun beberapa hadits Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan awal mula penciptaan Adam dari tanah. “Pendapat Abdul Shabur Syahin bahwa Adam dilahirkan ole kedua orangtuanya, mengingatkan kita pada teori evolusi yang dikemukan Charles Darwin, seorang Yahudi picik yang menulis dalam bukunya Ashl al-Anwa’ (Asal Mula Penciptaan). Darwin berpendapat, manusia berevolusi dari bentuk aslinya ke bentuk sekarang,” tegas Syekh Mun’im Ibrahim, dalam bukunya Ma Qabla Khalqi Adam (Adakah Makhluk Sebelum Adam, Menyingkap Misteri Awal Kehidupan), dan Wafqat Ma’a Abi Adam.
Syekh Mun’im setuju bahwa ada makhluk lain sebelum Adam diciptakan. Artinya, Adam bukan makhluk pertama. Namun demikian, ia sangat yakin bahwa Adam adalah manusia pertama yang berakal yang diciptakan Allah SWT.
Pendapat senada dengan penjelasan Syekh Mun’im ini, juga terdapat dalam buku Al-Jamharah karya Abu Darid, At-Tahzib karya Al-Azhari, Diwan al-Adab karya al-Farabi,Mu’jam Maqayis al-Lughah karya Ibnu Faris, Lisanu al-Arab karya Ibnu al-Manzhur Al-Ifriqi, lalu As-Shahhah karya Al-Jauhari, dan al-Mukhtar karya Ar-Razi.
                Sejumlah pihak mengatakan, bahwa sebelumnya telah ada makhluk lain yang disebut manusia dan mengelola bumi ini. Namun, mereka bukanlah manusia yang berakal sehingga dalam pengelolaannya makhluk itu banyak melakukan kerusakan dan kehancuran. Itulah, menurut berbagai pendapat, sehingga malaikat berkata kepada Allah, bahwa makhluk yang diciptakannya untuk mengelola bumi itu akan melakukan kerusakan, sebagaimana pendahulunya. Wa Allahu A’lam.

Makhluk Pertama
                Lalu, apa atau siapa makhluk yang pertama kali diciptakan Allah SWT?menurut Syekh Mun’im, makhluk yang pertama kali diciptakan adalah qalam(pena). Dari Ubadah bin As-Shamit, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Awal makhluk yang Allah SWT ciptakan adalah pena, lalu Dia berkata kepada pena, ‘Tulislah.’ Pena berkata, ‘Apa yang aku tulis?’ Allah berkata, ‘Tulislah apa yang akan terjadi dan apa yang telah terjadi hingga hari Kiamat.”
                Imam Ahmad RA meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda: “Bahwa makhluk yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena, lalu Dia berkata kepada pena tersebut, ‘Tulislah.’ Maka pada saat itu berlakulah segala apa yang ditetapkan hingga akhir kiamat.” (Lihat Musnad Ahmad RA).
                Dalam riwayat lain, ada yang mengatakan, makhluk yang pertama diciptakan adalah dawat (tinta), lalu pena. Ada pula yang menyebutkan, air pertama kali diciptakan.
Menurut Syekh Mun’im, pena adalah makhluk pertama yang diciptakan. Pendapat ini telah di-tarjih dan dikuatkan oleh Ibnu jarir dan Nashiruddin al-Albani RA. Setelah Allah menciptakan qalam, maka kemudian dilanjutkan dengan penciptaan tinta (dawat). Selanjutnya, Allah menciptakan air, kemudian arasy (singgasana), kursi, lauh al-mahfuzh, langit dan bumi (semesta), malaikat, surga, neraka, jin dan iblis (syaitan), dan Adam AS.
Wa Allahu A’lam

Tuesday, 23 April 2013

Riwayat pertemuan dua lautan (3)

                     (dua laut yang bertemu)


Ungkapan tentang ”dua laut” yang bertemu dan dipisahkan oleh dinding batas, tertulis dalam Surah Al-Furqân (25): 53, Al-Rahmân (55): 19-20, Fâthir (35): 12, dan Al-Naml (27): 61.

Di dalam Al-Rahmân: 22 dijelaskan bahwa dengan adanya batas antara dua laut itu, terdapat karunia al-lu‘lu‘ wa al- marjân. Suatu perhiasan, suatu karunia, yang dalam penafsiran beberapa ahli tafsir berbeda-beda artinya. Satu lagi ayat tentang pertemuan dua laut, namun tanpa penjelasan tentang batasnya, pada Al-Kahfi: 60, yaitu dalam konteks kisah perjalanan Nabi Musa a.s. mencari Nabi Khidir.

Untuk menjelaskan ”dua laut”, ”pertemuannya”, dan ”batas antara kedua laut” yang tertera dalam Surah Al-Furqân (25): 53, berikut penjelasan ahli tafsir Dr. Quraish Shihab . Kata maraja dalam kamus-kamus bahasa mempunyai dua arti: pertama berarti bercampur dan kedua berarti kepergian dan kepulangan, keterombang-ambingan, dan kegelisahan. Sedangkan kata hijr dalam kamus-kamus bahasa diartikan sebagai larangan, halangan, atau penyempitan. Sementara kata mahjûrâ berarti sesuatu yang terhalang. Jika demikian, hijran mahjûrâ adalah suatu halangan yang menjadikan apa yang terdapat di sana (makhluk hidup) terhalang untuk dapat keluar dan hidup di dalam lokasi yang sempit (terhalang) itu dibanding dengan luasnya samudra.

Dapat dipahami dari penjelasan ini bahwa dalam kata maraja ada unsur yang dinamis pada tempat bertemunya dua laut atau al-bahraini. Mungkin saja kedatangan satu laut dan kepergian laut yang lain, dalam posisi yang bersebelahan (dibatasi secara vertikal) atau bertumpang tindih (dibatasi secara horizontal), melibatkan suatu pergerakan, sesuatu yang dinamis. Namun, ”tempat pertemuan” itu berupa suatu kawasan ”perbatasan”, yang menghalangi kedua laut tadi dari menjadi ”satu” laut yang tanpa karakteristik fisika dan kimia yang khas. Karakter masing-masing laut tetap dipertahankan.

 Akibat adanya hijran mahjûrâ ini, menjadikan laut yang satu mempunyai karakter yang berbeda, yaitu dalam suhu, kadar keasinan (salinitas), densitas, dan tekanan, dengan laut yang  berdampingan tadi (di atas/di bawah atau di sampingnya). Oleh karena itu, makhluk hidup berupa ikan, ganggang, terumbu karang, dan sebagainya, yang ada di dua kawasan laut itu juga mempunyai karakter yang berbeda pula. Ikan yang hidup di bagian laut sebelah dalam yang bersuhu rendah dan bertekanan tinggi terbatasi habitat hidupnya di situ dan tidak akan melampaui batas ke kawasan laut dangkal yang bersuhu hangat dan bertekanan rendah Atau, dari ”batas” tadi yang memisahkan antara laut bersuhu dingin dan laut bersuhu hangat, manusia dapat memanfaatkan perbedaan temperatur tersebut untuk membangkitkan listrik sekaligus menghasilkan air tawar melalui proses desalinisasi dengan teknologi OTEC. Bukankah ini juga suatu karunia dari Allah yang amat berharga bagi manusia?

Riwayat pertemuan dua Lautan (2)

                              (Selat Gibraltar)

Pernahkah mendengar selat Gibraltar (Jabal Thoriq/ Jabal Tarik)? Diantara sekian banyak fenomena yang luar biasa ditemukan di dunia ini, salah satu diantaranya adalah yang terjadi di selat Gibraltar. Selat ini dinamakan demikian, untuk menghormati jasa panglima pejuang Islam – Thoriq bin Ziyad, berikut sumber dari situs wikipedia.
Thoriq bin Ziyad (? – 720 M) (Bahasa Arab: طَرِقْ بِن زِيَادْ ), dikenal dalam sejarah Spanyol sebagai legenda dengan sebutan Taric el Tuerto (Taric yang memiliki satu mata), adalah seorang jendral dari dinasti Umayyah yang memimpin penaklukan muslim atas wilayah Al-Andalus (Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar dan sekitarnya) pada tahun 711 M.
Pada tanggal 29 April 711, pasukan Thoriq mendarat di Gibraltar (nama Gibraltar berasal dari bahasa Arab, Jabal Thoriq yang artinya gunung Thoriq). Setelah pendaratan, ia memerintahkan untuk membakar semua kapal dan berbicara di depan anak buahnya untuk membangkitkan semangat mereka:
“Tidak ada jalan untuk melarikan diri! Laut di belakang kalian, dan musuh di depan kalian: Demi Alloh, tidak ada yang dapat kalian sekarang lakukan kecuali bersungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran.”
Pasukan Thoriq menyerbu wilayah Andalusia dan di musim panas tahun 711 berhasil meraih kemenangan yang menentukan atas kerajaan Visigothic, dimana rajanya, Roderic terbunuh pada tanggal 19 Juli 711 dalam pertempuran Guadalete. Setelah itu, Thoriq menjadi gubernur wilayah Andalusia sebelum akhirnya dipanggil pulang ke Damaskus oleh Khalifah Walid I.
Di selat ini, terdapat gelombang besar, arus kuat, dan gelombang pasang di Laut Tengah dan Samudra Atlantik. Air Laut Tengah memasuki Samudra Atlantik melalui selat Gibraltar. Namun suhu, kadar garam, dan kerapatan air laut di kedua tempat ini tidak berubah karena adanya “penghalang” yang memisahkan keduanya.
(Profil Batas Kerapatan Berdasarkan Kedalaman Laut)

Sifat lautan yang saling bertemu, akan tetapi tidak bercampur satu sama lain ini baru ditemukan oleh para ahli kelautan zaman modern ini. Dikarenakan gaya fisika yang dinamakan “tegangan permukaan”, air dari laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu. Akibat adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan mencegah lautan dari bercampur satu sama lain, seolah terdapat “dinding tipis” yang memisahkan mereka. (Davis, Richard A., Jr. 1972, Principles of Oceanography, Don Mills, Ontario, Addison-Wesley Publishing, s. 92-93.).
Saudaraku umat Muslim, Alloh Azza wa Jalla telah memberitakan tentang hal ini dalam Al-Qur’anul Kariim bahkan pada saat Ilmu kelautan belum ada saat itu.

مَرَجَ ﭐلْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ (١٩) بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لاَّ يَبْغِيَانِ
“DIA membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu”
“Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing‐masing”
(Q.S. Ar ‐ Rohman (55): 19 – 20).


فَبِأَىِّ ءَالاَۤ ءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ ؟
“Maka nikmat Robb-mu yang manakah yang kamu dustakan?” (Q.S. Ar ‐ Rohman (55): 21).

Riwayat pertemuan dua Lautan (1)

 
Alkisah Alexander Agung sengaja pergi ke tempat pertemuan dua lautan untuk mereguk air lautnya, ia mempercayai petuah Plato, "barang siapa yang mereguk air kehidupan (air pertemuan dua lautan) ia tidak akan mati".

Plato sendiri sendiri telah sampai ke tempat tersebut dan meminum air lautnya, ia hingga kini tetap hidup di sebuah gunung yang disebut Dravenda, setidaknya itulah keyakinan para Platonis. Aristoteles yang merupakan punggawa murid Plato adalah guru Alexander Agung, Aristoteles menyertai Alexander Agung dalam pengembaraannya menuju pertemuan dua laut tersebut, dalam pengembaraan itu, ketika mereka melintasi bumi kegelapan.

Aristoteles memilih sikap terus berjalan, ia hanya diikuti oleh segelintir pasukan, mayoritas pasukan memilih mendirikan tenda besar di sebuah tempat yang bernama Tsabat, di tempat ini dapat dilihat matahari menampakkan sinarnya takala terbit.

Khidir as juga ada di antara pengikut kembara Alexander Agung itu, mereka tidak tahu sudah berapa jarak yang telah mereka tempuh, sudah berapa hari yang telah mereka lewati dalam pengembaraan tersebut, tiba-tiba mereka merasa telah berada di tepi laut, dengan sigap sebagian dari mereka turun ke laut mereguk airnya, tidak sedikit dari rombongan yang putus asa dan memilih tidak ikut melanjutkan pengembaraan, mereka memutuskan untuk tetap di markas persinggahan.

Sejatinya mereka telah sampai pada tempat yang mereka tuju (pertemuan dua laut) akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa tempat itu adalah pertemuan dua laut, mereka pun tidak turun ke pantainya dan mereguk airnya.

Padahal Khidir as sudah mengisyaratkan kepada mereka dengan menyembelih seekor burung dan mengikatnya dipergelangan tangannya, ia lalu pergi ke tepian laut tersebut burung itu ia benamkan ke air laut tiba-tiba hidup kembali seperti sedia kala.

Khidir as lalu melepaskan burung tersebut, ia sendiri lalu mandi dan berenang serta mereguk air tersebut, semua orang melihat apa yang diperagakan Khidir itu namun tidak ada satupun menangkap isyarat yang ia berikan kepada mereka.

Khidir as juga tidak memberitahukan hal tersebut kepada Alexander Agung namun Plato sangat jeli menangkap pesan tersirat yang diperagakan Khidir as. Plato dari lubuk hatinya yang paling dalam mengakui Khidirlah yang beruntung dalam pengembaraan itu.

Plato berguru kepada Khidir hingga ajal menjemputnya, sedang Alexader ia hanya bisa belajar ilmu Khidir dari apa yang diajarkan Plato kepada dirinya. Ketahuilah, sejatinya 'Ain al Hayah (air kehidupan) itu adalah hakekat inti (dzat) dari segala yang wujud.

Pahami isyarat ini agar anda dapat memecahkan rumus ibarat, jangan memaknai hakekat sesuatu dengan pandangan kasat mata anda, pahami sesuatu dengan lanskap pandangan kesejatian diri anda, atau jangan memahami hakekat sesuatu sebelum anda memahami kesejatian diri anda agar anda bisa menggapai maqom sebagaimana pesan yang digambarkan, "Mereka itu tetap hidup disisi Tuhannya dengan perolehan Rizqi".

Sejalan dengan perjalanan waktu, anda akan diperkenankan berjalan dan bergabung dengan kelompok yang lebih dahulu bersua dengan Khidir as dan Musa as serta anda akan terjauhkan dari Alexander Agung dan kegelapan siang bolongnya.